Selasa, 25 Desember 2012

Pertemuan singkat



 ^^ PERTEMUAN SINGKAT ^^

Semuanya berawal dari pertemuan ku dengannya. Pertemuan yang relatif singkat tapi membuat ku geregetan setiap kali bertemu dengannya. Yah namanya anak muda.
 Lambat laun pertemuan itu berlanjut, mulai dari berkenalan, tukaran nomor telepon, sampai jalan bersama  menelusuri malam yang indah saat itu.
Waktu terus berlanjut, setiap hari aku bertemu dengan dia untuk sebuah kompetisi. Hati semakin bertautan kala dimana kami saling mendukung satu sama lain, mengulas senyum setiap kali ada pertemuan, bahkan saling mengagumi satu sama lain.
Benih – benih cinta itu pun mulai bertumbuh dan semakin bertumbuh.  Tidak salah memang kalimat yang mengatakan dari mata turun sampai ke hati. Itulah kalimat yang pas untuk suasana hatiku saat itu.
Kamis yang indah, yah sangat indah karena disaat itu juga sederetan kata cinta keluar darinya, serasa tidak ada lagi beban ketika kata-kata itu keluar dari bibirnya. Genggaman hangat tangannya seakan tak bisa aku lepas, tidak ada alasan untuk ku menolak dia, sosoknya yang kebapaan, sopan, santun, religious. Sosok yang selalu aku impikan.
Bulan, bintang,bahkan langit yang hitam   menjadi saksi bisu saat dimana kami menyatukan hati kami. Tidak bisa di pungkiri kalau saat itu adalah saat yang paling bahagia dalam hidup ku.
Tidak terasa, waktu berjalan sangat cepat, kompetisi pun telah selesai, dan saat itu juga saya harus menelan pil pahit untuk sebuah kegagalan yang telah saya perbuat. Kegagalan yang sampai saat ini belum bisa hilang dari ingatan ku. Dilain sisi juga saya dan dia harus terpisah oleh jarak yang lumayan jauh tapi buat saya itu tidak menjadi penghalang kelangsungan hubungan ku dengan dia, karena saya yakin semua akan baik-baik saja ketika kami mampu  saling jujur dan terbuka satu sama lain.
Tujuh jam, waktu yang kami gunakan untuk  saling bicara sebelum kami berpisah satu sama lain.
Hubungan jarak jauh pun berlangsung, sebenarnya saya senang dengan hubungan seperti  ini, karena sejujurnya saya adalah tipikal orang yang mudah bosan untuk sesuatu hal. Rumit memang karena disaat rindu melanda tidak bisa bertatap muka langsung, tapi sejatinya pacaran itu tidak harus selalu bertemu karena untuk saya hal itu adalah hal yang paling membosankan.
Tehknologi memang canggih, karena tehknologi sangat membantu kelangsungan hubungan ku dengan dia. Dimana pun saya berada saya selalu bisa pantau keadaan dia. Pribadinya yang religious itu yang membuat saya sedikitpun tidak mau menyakitinya, saya selalu tanamkan kesetiaan dalam hidup saya. Karena hanya itulah kunci yang paling ampuh buat saya dan mungkn buat orang lain juga.


***

Belajar dari  kegagalan yang saya alami saat itu semakin membuka mata saya, mengajarkan saya untuk tidak diam  dalam keterpurukan. Berkat dorongan dari orangtua dan sahabat-sahabat terdekat, lambat laun semuanya bisa terobati. Saat itu juga  saya memutuskan untuk pergi jauh dari orangtua ke tempat yang cukup jauh dengan harapan saya bisa mendapatkan  kehidupan yang lebih baik dan masa depan yang mungkin lebih cerah.
Orangtua memang tidak sepenuhnya mengijinkan karena mereka mempertimbangkan banyak hal, tapi sebagai anak yang sudah beranjak dewasa, saya berpikir panjang lebar untuk hidup saya kedepannya. Banyak cara dan pemikiran yang saya lakukan untuk mendapatkan izin dari mereka.
Disaat saya telah mengantongi izin dari kedua orangtua, aral melintang ternyata masih ada. Yakni pacar. Banyak hal yang telah saya lakukan untuk meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi saya juga  tidak bisa bohongi perasaan kalau saya belum bisa berpisah jauh dari dia (Medan – Papua). Saya coba sampaikan semuanya untuk meyakinkan dia tapi toh juga tidak berpengaruh. Banyak hal yang kami bicarakan saat itu, terutama tentang hubungan yang sedang berjalan, saat itu dia berikan saya dua pilihan yang cukup sulit untuk dijawab. Tapi, saya harus pilih salah satu, dia? Atau kehidupan saya selanjutnya ( pergi ).
 Bukannya egois atau tidak mencintai dia lagi?
Dengan yakin saya pilih kehidupan saya. Dan apa yang terjadi?.
Yah semuanya berakhir. Hancur berantakan.
Sebenarnya bukan ini yang saya harapkan. Sedikitpun  Saya  tidak pernah berharap akan ada perpisahan walaupun ternyata aku harus pergi dalam kurun waktu yang tidak ditentukan seberapa lama. Jauh dilubuk hati, sebenarnya saya tidak tega sekali mendengar suaranya yang sudah parau karena menangis. Saya juga tidak bisa lagi membendung air mata ini mendengar dia memohon-mohon untuk tidak pergi. Tapi inilah kenyataannya. Ended.
            Walaupun kami telah berpisah, tetapi hubungan baik masih terjalin diantara saya dan dia. Yah walaupun hanya sekedar untuk berteman saja. Tapi buat saya itu sudah lebih dari cukup.
            Seperti layaknya pergaulan anak zaman sekarang, begitu juga dengan saya. Setelah sempat vacum dengan dia, saat itu juga hubungan asmara terjalin lagi. Tentunya saya tidak akan lewatkan kesempatan baik ini, karena jauh dilubuk hati ku masih ada dia dan selalu dia.
            Walaupun hubungan kami hanya bermodal telephon dan sms, itu sudah lebih dari cukup untuk saya. Seringkali dikala rasa rindu membludak, toh saja tidak bisa melihat wajahnya. Tapi saya syukuri semua itu dengan alasan saya masih untuk dia.
Dikala itu hanya dia satu-satunya orang yang biasa saya ajak untuk bertukar pikiran, curhat tentang masalah-masalah ku setelah jauh dari orangtua. Semuanya itu kami jalani bersama-sama. Tak pernah sekalipun kami bertengkar seperti hubungan orang lainnya, hubungan kami mulus-mulus saja.
                                                            ****

            Kamis malam.
Mungkin malam ini adalah moment yang paling menyakitkan untuk saya. Karena dengan berat hati kami harus mengakhiri hubungan yang telah kami bina untuk kesekian kalinya.
 Yah berpisah untuk kesekian kalinya. Semua diluar kendali ku, dia telah berbagi hati untuk orang lain disaat saya jauh dan saya tidak bisa berbuat apalagi, selain menangis untuk hal yang memang tidak begitu penting untuk ditangisi, tapi yah namanya cinta sudah membutakan mata saya saat itu.
Didalam hati saya berpikir ”sia-sia kesetian yang selama ini telah saya pupuk”
Kenapa tidak??
 Disaat saya jauh saya harap dia bisa menjaga kesetiaan yang saya berikan padanya. Tapi mungkin memang kepribadian seseorang itu sangatlah berbeda. Saya bisa terima keberadaan dia tetapi tidak begitu dengan dia.
            Waktu tidak berhenti disatu titik disaat saya terluka, tapi dia tetap berjalan sesuai alur yang memang sudah ditentukan oleh Tuhan.  Butuh waktu yang panjang memang untuk bisa melupakan dia. Tapi sampai saat ini bahkan sampai detik dimana saya membuat tulisan ini, hati ku masih untuk dia, entah sampai kapan itu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar